Generasi Muda Kurang Peduli Budaya Sendiri
Generasi Muda Kurang Peduli Budaya Sendiri
JAKARTA, RABU - Rasa bangga dan kepedulian melestarikan budaya kurang tertanam di generasi muda Indonesia saat ini. Minat mereka untuk memperlajarinya kurang. Mereka lebih tertarik belajar kebudayaan asing. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya informasi kekayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia. Padahal Indonesia memiliki tujuh warisan budaya, tiga di antaranya warisan budaya dunia.
Demikian benang merah yang diungkapkan Koordinator IndoWYN Lenny Hidayat, Program Specialist Unesco Office, Jakarta, Masanori Nagaoka, dan Wakil Koordinator IndoWYN Hindra Liu, pada jumpa pers Pelatihan dan Pendidikan Warisan Budaya untuk Kaum Muda Indonesia. Rabu (26/11) di Jakarta.
Pelatihan dan Pendidikan Warisan Budaya untuk Kaum Muda Indonesia itu, dilangsungkan di Villa Amitayus, Puncak, 28-30 November, diikuti 35 anggota IndoWYN, Jaringan Kaum Muda Peduli Warisan Budaya Dunia Indonesia (Indonesia World Heritage Youth Network) .
Lenny Hidayat mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang menjadi warisan dunia seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Situs Manusia Purba Sangiran. Walau sudah dikenal luas di dunia, namun masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak paham makna yang terkandung di dalamnya.
Contoh yang paling terlihat adalah Borobudur. Sudah 30 tahun masa restorasi berlalu, tapi masih saja minimnya informasi yang tersedia di situs tersebut. Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas untuk melestarikan budaya, hanya saja semua pengetahuan masih tersimpan rapi di generasi pendahulu. "Tidak ada lagi sumber pendidikan budaya yang bisa menjadi referensi kaum muda," katanya.
Selain Borobudur, Prambanan, dan Situs Sangiran, empat warisan dunia lainnya yang ada di Indonesia adalah Pulau Komodo, Hutan Hujan Tropis Sumatera, Taman Nasional Lorenz, dan Taman Nasional Ujung Kulon. Ada 24 warisan budaya dalam daftar tentatif Pemerintah Indonesia untuk diajukan sebagai warisan dunia.
Masanori Nagaoka mengatakan, terdaftarnya suatu situs budaya dalam daftar warisan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah awal upaya pelestarian untuk generasi berikutnya. Unesco yang diberi mandat untuk membantu pemerintah dan rakyatnya dalam upaya perlindungan terhadap situs-situs warisan dunia, siap membantu
pemerintah Indonesia memperkuat kapasitas dalam hal manajemen situs-situs warisan dunia yang ada di Indonesia, katanya.
Hendra Liu menambahkan, Pelatihan dan Pendidikan Warisan Budaya untuk Kaum Muda Indonesia, khususnya anggota IndoWYN, diharapkan bisa menggugah kepedulian generasi muda dan pemangku kepentingan, untuk melestarikan warisan budaya dunia di Indonesia.
Tindak lanjutnya, anggota jaringan IndoWYN akan melatih anggota lainnya dan memberikan presentasi di sekolah-sekolah terdekat. "Selain itu, IndoWYN akan terus aktif memberikan masukan dan kontribusi ke pemangku kepentingan," katanya.
Tahun 2009, IndoWYN akan melakukan riset sosial dan persepsi terhadap warisan budaya Indonesia. Kontribusi ke usaha pengadopsian warisan budaya sebagai kurikulum sekolah. Kemudian membuat buku dokumentasi foto-foto borobudur kolaborasi dengan para fotografer Indonesia.
Sumber: kompas.com

Menanggapi Kemarahan Masyarakat Atas Malaysia
Liputan6.com, Jakarta: Kemarahan publik di Indonesia terhadap Malaysia kerap kali terjadi. Rentetan peristiwa telah menjadi pemicu, mulai sengketa perbatasan, penganiayaan tenaga kerja Indonesia hingga klaim Malaysia atas sejumlah budaya Indonesia. Menghadapi hal tersebut pemerintah seakan tidak segera bertindak, padahal peristiwa ini sering kali terjadi.Kemarahan rakyat indonesia atas klaim kebudayaan, pulau sipadan dan ligitan, atau aksi penganiayaan terhadap TKI oleh malaysia jelas terlihat dengan maraknya aksi demo yang di gelar, banyaknya aksi protes di situs jejaring sosial, bahkan tidak sedikit yang menghina malaysia atas tindakannya tersebut.
Salah satu permasalahan yang berlarut-larut hingga kini adalah sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan yang telah menjadi masalah hingga 35 tahun lamanya. Kedua negara mengklaim sebagai pemilik kedua pulau yang terletak di sekitar Kalimantan itu. Pada 2002, Mahkamah Internasional memutuskan bahwa Malaysia adalah pemilik sah pulau tersebut .
Hubungan antara dua negara serumpun juga kerap terusik oleh maraknya kasus penganiayaan terhadap TKI yang bekerja di Negeri Jiran tersebut. Penganiayaan terhadap TKI asal Indonesia Nirmala Bonat pada 2009 silam adalah salah satu kasus yang paling banyak menyita perhatian. Ketegangan antara Indonesia dan Malaysia juga dipicu sengketa kepemilikan Blok Ambalat di perairan sebelah timur Pulau Kalimantan.
Ditambah lagi Malaysia terus melakukan provokasi di kawasan ini dengan manuver yang dilakukan Tentara Laut Diraja Malaysia. Tak hanya itu, Malaysia melalui Petronas memberikan konsesi minyak kepada perusahaan Shell di kawasan sengketa tersebut. Dan yang paling banyak memicu kemarahan publik di Indonesia adalah klaim Malaysia atas sejumlah kebudayaan Indonesia seperti batik, angklung, Reog Ponorogo, dan sejumlah budaya milik Indonesia lainnya.
Belum selesai dengan permasalahan itu, kini rakyat Indonesia kembali marah atas penangkapan yang dilakukan Malaysia terhadap tiga petugas Indonesia di perairan Indonesia. (sumber liputan6.com)
Food Not Bombs
Tanggal 20 Juni yang lalu, beberapa anak muda dari depok melakukan aksi solidaritas dengan membagikan makanan vegetarian secara gratis. Kegiatan yang mereka sebut Food Not Bombs atau biasa disingkat FNB itu berlangsung disekitar stasiun dan terminal
Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena ada cukup makanan untuk semua orang dimana-mana!
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong!
Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh lingkungan bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!
The Tielman Brothers - Rollin' Rock (live 1960)
Jauh sebelum Elvis Presley, Beatles, Rolling Stones, Jimi Hendrix, dll mendominasi musik rock tahun ‘60 an, The Tielman Brothers sebuah grup ROCK N ROLL asal Indonesia sudah lebih dulu populer dan menjadi salah satu pionir rock n’ roll dunia. Konon gaya bermain dan musik mereka juga yang telah mengilhami penyanyi rock papan atas sekelas Beatles Jimi Hendrix, dkk. Mereka ini asli orang indonesia, tapi pada tahun ‘50 an, saat soekarno gencar meneriakan anti barat, mereka terpaksa hijrah ke Belanda dan menetap disana. Jadi mereka lebih dikenal band asal Belanda dari dari pada Indonesia.

